Tabloid PULSA

Senin, 23 Maret 2009

Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran Batubara Pada PLTU Suralaya Sebagai Bahan Baku Pembuatan Refraktori Cor

1. Judul

Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Dari Pembakaran Batubara Pada PLTU Suralaya Sebagai Bahan Baku Pembuatan Refraktori Cor

2. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata pencemaran. Pencemaran sendiri terdiri dari beberapa macam, antara lain pencemaran tanah, pencemaran air, pencemaran udara, serta pencemaran suara. Pencemaran tersebut memberikan dampak yang sangat berbahaya terhadap kehidupan makhluk hidup. Bagi manusia bahaya dari pencemaran ini bukan hanya mengarah kepada bahaya kesehatan tetapi juga bahaya kematian.

Salah satu pencemaran yang paling berbahaya dan memberikan dampak yang cukup besar adalah pencemaran udara. Pencemaran udara sendiri mengandung pengertian masuk atau dimasukkannya masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, atau komponen lain ke dalam udara dari kegiatan manusia atau proses alam sehingga menurunkan kualitas udara tersebut ke titik tertentu yang menyebabkan udara menjadi kurang/tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.

Pada dasarnya semua pencemaran itu berbahaya bagi kehidupan, tetapi pencemaran udara menjadi salah satu pencemaran yang dikategorikan sebagai pencemaran yang sangat berbahaya. Hal ini dikarenakan partikel polutan dari pencemaran ini berukuran sangat kecil sehingga tidak disadari oleh masyarakat. Sumber pencemar dalam pencemaran udara tidak hanya berasal dari aktivitas manusia (karena tangan manusia), tetapi juga oleh sumber-sumber pencemar yang datangnya akibat peristiwa alamiah seperti gunung meletus, bencana alam, dan lain-lain. Berdasarkan wujud fisiknya, pencemar-pencemar yang terdapat di udara tidak hanya berupa gas atau uap, melainkan kontaminan itu dapat juga sebagai benda-benda padat sebagai partikel, yaitu berupa debu, asap, kabut, dan lain-lain, bahkan panas dan bau juga.

Partikulat termasuk dalam salah satu polutan pencemaran udara. Secara umum partikel yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Partikel-partikel tersebut sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis.

Fly Ash merupakan salah satu jenis partikulat yang dapat diklasifikasikan dalam debu. Hal ini karena biasanya Fly Ash dipengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Abu terbang (fly ash) sebagai limbah PLTU berbahan bakar batu bara dikategorikan oleh Bapedal sebagai limbah berbahaya (B3). Sehubungan dengan meningkatnya jumlah pembangunan PLTU berbahan bakar batubara di Indonesia, maka jumlah limbah abu terbang juga akan meningkat yaitu jumlah limbah PLTU pada tahun 2000 sebanyak 1,66 juta ton, sedangkan pada tahun 2006 diperkirakan akan mencapai sekitar 2 juta ton. Khusus untuk limbah abu dari PLTU Suralaya, sejak tahun 2000 hingga tahun 2006, diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton/tahun. Jika limbah abu ini tidak dimanfaatkan akan menjadi masalah pencemaran lingkungan, yang mana dampak dari pencemaran akibat abu terbang (fly ash) sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun kesehatan. Oleh karena itu, penelitian tentang studi kasus pencemaran udara yang disebabkan oleh partikulat khususnya abu terbang (Fly Ash) perlu dilaksanakan untuk mengetahui sejauh mana dampak serta pemanfaatannya terhadap lingkungan.

3. Perumusan Masalah

Dalam penelitian ini kami membahas tentang sumber, dampak, penanggulangan dan kendala yang disebabakan oleh partikulat di udara terhadap lingkungan.

4. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta menginformasikan tentang sumber, dampak, penanggulangan dan kendala yang disebabakan oleh partikulat di udara terhadap lingkungan.

5. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini antara lain masyarakat menjadi tahu bahwa abu terbang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan refraktori cor sehingga di samping menjaga lingkungan dapat digunakan sebagai mata pencaharian.

6. Tinjauan Pustaka

a. Karakteristik Fly Ash (Abu Terbang)

Abu terbang merupakan limbah padat hasil dari proses pembakaran di dalam furnace pada PLTU yang kemudian terbawa keluar oleh sisa-sisa pembakaran serta di tangkap dengan mengunakan elektrostatic precipitator. Fly ash merupakan residu mineral dalam butir halus yang dihasilkan dari pembakaran batu bara yang dihaluskan pada suatu pusat pembangkit listrik. Fly ash terdiri dari bahan inorganik yang terdapat di dalam batu bara yang telah mengalami fusi selama pembakarannya. Bahan ini memadat selama berada di dalam gas-gas buangan dan dikumpulkan menggunakan presipitator elektrostatik. Karena partikel-partikel ini memadat selama tersuspensi di dalam gasgas buangan, partikel-partikel fly ash umumnya berbentuk bulat. Partikel-partikel fly ash yang terkumpul pada presipitator elektrostatik biasanya berukuran silt (0.074 – 0.005 mm). Bahan ini terutama terdiri dari silikon dioksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3) dan besi oksida (Fe2O3).

Menurut laporan teknik PT PLN (Persero) (1997), di Indonesia produksi limbah abu terbang dan abu dasar dari PLTU diperkirakan akan mencapai 2 juta ton pada tahun 2006, dan meningkat menjadi hampir 3,3 juta ton pada tahun 2009. Khusus untuk PLTU Suralaya, sejak tahun 2000 hingga 2006 diperkirakan ada akumulasi jumlah abu sebanyak 219.000 ton per tahun. Produksi abu terbang batubara (fly ash) didunia pada tahun 2000 diperkirakan berjumlah 349 milyar ton. Produksi abu terbang dari pembangkit listrik di Indonesia ini terus meningkat, pada tahun 2000 yang jumlahnya mencapai 1,66 milyar ton dan diperkirakan mencapai 2 milyar ton pada tahun 2006. Jika limbah abu ini tidak ditangani akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan. Salah satu kemungkinan penanganannya adalah dengan memanfaatkan abu terbang ini untuk bahan baku pembuatan refraktori.. Penyumbang terbesar produksi abu terbang batubara adalah sektor pembangkit listrik.

Tabel 1. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU di Indonesia

meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8">

Tabel 2. Jumlah dan perkiraan produksi abu terbang dan abu dasar oleh PLTU Suralaya

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi dalam kandungan mineral fly ash (abu terbang) dari batu bara adalah:

· Komposisi kimia batu bara

· Proses pembakaran batu bara

· Bahan tambahan yang digunakan termasuk bahan tambahan minyak untuk stabilisasi nyala api dan bahan tambahan untuk pengendalian korosi.

Senyawa-senyawa penyusun abu terbang sebenarnya sangat ditentukan oleh mineral-mineral pengotor bawaan yang terdapat pada batu bara itu sendiri yang disebut dengan inherent mineral matter. Mineral pengotor yang terdapat dalam batu bara dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu :

  1. Syngenetic atau disebut dengan mineral matter : pada dasarnya mineral-mineral ini terendapkan di tempat tersebut bersamaan dengan saat prosespembentukan paet.
  2. Epigenetica juga disebut dengan extraneous mineral matter: pada prinsipnya mineral-mineral pengotor ini terakumulasi pada cekungan setelah proses pembentukan lapisan peat tersebut selesai.

Dari sejumlah abu yang dihasilkan dalam proses pembakaran batubara, maka sebanyak 55% - 85 % berupa abu terbang (fly Ash) dan sisanya berupa abu dasar (Bottom Ash). Sedangkan dari PLTU Suralaya dari sejumlah abu yang dihasilkan hampir 90 % berupa abu terbang (Fly Ash). Kedua janis abu ini memiliki perbedaan karakteristik serta pemanfaatannya. Biasanya untuk fly ash (abu terbang) banyak dimanfaatkan dalam perrusahaan industri karena abu terbang ini mempunyai sifat pozolanik, sedangkan unutk abu dasar sangat sedikit pemanfaatannya dan biasanya digunakan sebagai material pengisi (Aziz1, 2006).

a. Proses Pembentukan Fly Ash (Abu Terbang)

Sistem pembakaran batubara umumnya terbagi 2 yakni sistem unggun terfluidakan (fluidized bed system) dan unggun tetap (fixed bed system atau grate system). Disamping itu terdapat system ke-3 yakni spouted bed system atau yang dikenal dengan unggun pancar. Fluidized bed system adalah sistem dimana udara ditiup dari bawah menggunakan blower sehingga benda padat di atasnya berkelakuan mirip fluida. Teknik fluidisasi dalam pembakaran batubara adalah teknik yang paling efisien dalam menghasilkan energi. Pasir atau corundum yang berlaku sebagai medium pemanas dipanaskan terlebih dahulu. Pemanasan biasanya dilakukan dengan minyak bakar. Setelah temperatur pasir mencapai temperature bakar batubara (300oC) maka diumpankanlah batubara. Sistem ini menghasilkan abu terbang dan abu yang turun di bawah alat. Abu-abu tersebut disebut dengan fly ash dan bottom ash. Teknologi fluidized bed biasanya digunakan di PLTU (Pembangkit Listruk Tenaga Uap). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan berat adalah : (80-90%) berbanding (10-20%). Fixed bed system atau Grate system adalah teknik pembakaran dimana batubara berada di atas conveyor yang berjalan atau grate. Sistem ini kurang efisien karena batubara yang terbakar kurang sempurna atau dengan perkataan lain masih ada karbon yang tersisa. Ash yang terbentuk terutama bottom ash masih memiliki kandungan kalori sekitar 3000 kkal/kg. Di China, bottom ash digunakan sebagai bahan bakar untuk kerajinan besi (pandai besi). Teknologi Fixed bed system banyak digunakan pada industri tekstil sebagai pembangkit uap (steam generator). Komposisi fly ash dan bottom ash yang terbentuk dalam perbandingan berat adalah : (15-25%) berbanding (75-25%) (Koesnadi, 2008).

b. Sifat-sifat Fly Ash (Abu Terbang)

Abu terbang mempunyai sifat-sifat yang sangan menguntungkan di dalam menunjang pemanfaatannya yaitu :

1.Sifat Fisik

Abu terbang merupakan material yang di hasilkan dari proses pembakaran batubara pada alat pembangkit listrik, sehingga semua sifat-sifatnya juga ditentukan oleh komposisi dan sifat-sifat mineral-mineral pengotor dalam batubara serta proses pembakarannya. Dalamproses pembakaran batubara ini titik leleh abu batu bara lebih tinggi dari temperatur pembakarannya. Dan kondisi ini menghasilkan abu yang memiliki tekstur butiran yang sangat halus. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100 sampai 3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara Blaine) antara 170 sampai 1000 m2/kg. Adapun sifat-sifat fisiknya antara lain :

a) Warna : abu-abu keputihan

b) Ukuran butir : sangat halus yaitu sekitar 88 %

2. Sifat Kimia

Komponen utama dari abu terbang batubara yag berasal dari pembangkit listrik adalah silikat (SiO2), alumina(Al2O3), dan besi oksida(Fe2O3), sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium, dan belerang.

Sifat kimia dari abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yan dibakar dan teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan sub/bituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak daripada bituminus. Namun, memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon yang lebih sedikit daripada bituminous. Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075 mm. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100-3000 kg/m3 dan luas area spesifiknya antara 170-1000 m2/kg.

Tabel 3. Komposisi kimia abu terbang batubara

Komponen

Bituminous

Sub-
bituminous

Lignite

SiO2

20-60%

40-60%

15-45%

Al2O3

5-35%

20-30%

10-25%

Fe2O3

10-40%

4-10%

4-15%

CaO

1-12%

5-30%

15-40%

MgO

0-5%

1-6%

3-10%

SO3

0-4%

0-2%

0-10%

Na2O

0-4%

0-2%

0-6%

K2O

0-3%

0-4%

0-4%

LOI

0-15%

0-3%

0-5%

c. Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang)

Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Saat ini umumnya abu terbang batubara digunakan dalam pabrik semen sebagai salah satu bahan campuran pembuat beton selain itu, sebenarnya abu terbang batubara memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam:

  1. penyusun beton untuk jalan dan bendungan
  2. penimbun lahan bekas pertambangan
  3. recovery magnetik, cenosphere dan karbon
  4. bahan baku keramik, gelas, batubata, dan refraktori
  5. bahan penggosok (polisher)
  6. filler aspal, plastik, dan kertas
  7. pengganti dan bahan baku semen
  8. aditif dalam pengolahan limbah (waste stabilization)
  9. konversi menjadi zeolit dan adsorben

Refraktori merupakan bahan tahan api sebagai penahan (isolator) panas pada tanur-tanur suhu tinggi yang banyak digunakan oleh berbagai industri, seperti industri peleburan logam, kaca, keramik, semen. Refraktori cor merupakan bahan tahan api berupa bubuk yang jika dicampur dengan air dan dibiarkan beberapa saat akan mengeras (setting). Penggunaannya sebagai isolator panas dilakukan dengan cara pengecoran adonan campuran bahan tersebut dengan air pada dinding tanur yang akan diisolasi.

Ada 3 tipe refraktori cor berdasarkan kandungan CaO-nya (Kumar et al,2003; Silvonen,2001) yaitu:

- Low cement castables mengandung maksimum CaO 2,5 %

- Ultra - low cement castables mengandung CaO <>

- No cement castables mengandung CaO <>

Menurut data produk perdagangan dari Sharada Ceramic Ltd, India (2000), refraktori cor yang bersifat asam mengandung Al2O3 65 - 95%, dan SiO2 5 - 32%, tahan terhadap suhu 1750 - 1860°C, bulk density 2,1 - 2,8 g/ml. Bahan refraktori yang baik harus memiliki kadar Al2O3 lebih tinggi daripada SiO2 dengan perbandingan Al2O3 : SiO2 = 65% : 35% atau nilai Al2O3/SiO2=1,85 (Aziz2, 2006)

Penelitian dan aplikasi pemanfaatan abu terbang sebagai bahan refraktori sudah dilakukan dibeberapa negara seperti India dan Cina. Abu terbang PLTU-Suralaya diduga mempunyai potensi sebagai salah satu bahan baku refraktori. Dalam rangka pemanfaatan abu terbang PLTUSuralaya untuk bahan baku pembuatan refraktori, khususnya refraktori cor (castable refractory), perlu terlebih dahulu dilakukan penelitian bahan baku (raw materials) abu terbang tersebut untuk mengetahui karakteristiknya melalui serangkaian penelitian dan pengujian.

d. Dampak Fly Ash (Abu Terbang) di Lingkungan

Adapun dampak yang ditimbulkan dari fly ash, yaitu:

1. Dampak positif.

Fly ash (abu terbang/abu layang) dimanfaatkan sebagai adsorben limbah sasirangan dan logam berat berbahaya, bahan pembuat beton, bahan pembuat refaktori cor tahan panas, Hal itu didasari oleh struktur abu layang yang berpori dan luas permukaan yang besar, sehingga dengan sedikit perlakuan dan modifikasi manjadikan abu layang sebagai bahan yang cukup potensial untuk berbagai keperluan sehingga dapat menghemat biaya dan tanpa disadari dapat mengurangi pencemeran lingkungan akibat fly ash itu sendiri. Bagi industry yang menggunakan bahan bakar batu bara, seperti PLTU dapat memanfaatkan fly ash sebagai sumber ekonomi sampingan.

2. Dampak negatif.

Apabila fly ash didiamkan dan tidak diolah maka akan berdampak pada lingkungan dan manusia, karna fly ash merupakan salah satu limbah B3.

Tabel 4. Waktu paparan fly ash


Jenis-jenis penyakit yang ditimbulkan oleh patikulat fly ash batubara:

a. Penyakit Silikosis

Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2, yang terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dll). Selain dari itu, debu silika juka banyak terdapat di tempat di tempat penampang bijih besi, timah putih dan tambang batubara. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak menghasilkan debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan terdispersi ke udara bersama – sama dengan partikel lainnya, seperti debu alumina, oksida besi dan karbon dalam bentuk abu.

Debu silika yang masuk ke dalam paru-paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan lebih pendek, atau gejala penyakit silicosis akan segera tampak, apabila konsentrasi silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit silicosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-batuk. Batuk ii seringkali tidak disertai dengan dahak. Pada silicosis tingkah sedang, gejala sesak nafas yang disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru-parunya mudah sekali diamati. Bila penyakit silicosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan kegagalan kerja jantung.

Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan yang ketat sebab penyakit silicosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan preventif lebih penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan pengobatannya. Penyakit silicosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita penyakit TBC paru-paru, bronchitis, astma broonchiale dan penyakit saluran pernapasan lainnya. Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu – waktu diperlukan.

b. Penyakit Antrakosis

Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut bertenaga batubara, serta pekerja boiler pada pusat Listrik Tenaga Uap berbahan bakar batubara.

Masa inkubasi penyakit ini antara 2 – 4 tahun. Seperti halnya penyakit silicosis dan juga penyakit-penyakit pneumokonisosi lainnya, penyakit antrakosis juga ditandai dengan adanya rasa sesak napas. Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu silikat maka penyakit antrakosis juga sering disertai dengan penyakit silicosis. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu penyakit antrakosis murni, penyakit silikoantraksosis dan penyakit tuberkolosilikoantrakosis.

Penyakit antrakosis murni disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi berat, dan relatif tidak begitu berbahaya. Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai dengan komplikasi atau emphysema yang memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi emphysema maka antrakosis murni lebih berat daripada silikoantraksosis yang relatif jarang diikuti oleh emphysema. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantraksosi sulit dibedakan, kecuali dari sumber penyebabnya. Sedangkan paenyakit tuberkolosilikoantrakosis lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. Perbedaan ini mudah dilihat dari fototorak yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu batubara dan debu silikat, serta juga adanya baksil tuberculosis yang menyerang paru-paru.

1. Metodologi

a. Karakterisasi Fly Ash (Abu Terbang)

Dalam usaha untuk memanfaatkan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara di PLTU unit II Suralaya menjadi sebagai bahan baku dalam pembuatan refraktori cor, maka terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap abu terbang yang dilanjutkan dengan persiapannya.

Adapun langkah-langkah analisis dan percobaanya sebagai berikut :

  1. Uji karakterisasi abu terbang PLTU Suralaya dilakukan melalui analisis kimia, analisis fisik (distribusi ukuran, porositas, berat jenis, analisis SEM). Hasil - hasil analisis yang diperoleh
  2. pembuatan refraktori cor dan membandingkan dengan komposisi/ karakteristik yang dimiliki oleh refraktori cor komersial.

Adapun alat / metoda yang digunakan adalah sebagai berikut :

· Analisis kimia dengan AAS

· Mineralogi dengan XRD.

Dimana prinsip kerja dari XRD adalah merekam dan memvisualisasikan pantulan sinar X dari kisikisi kristal dalam bentuk grafik. Grafik tersebut kemudian dianalisis, terdiri atas mineral liat apa saja dan relatif komposisinya.

· Uji struktur mikro dengan SEM.

SEM (Scanning Electron Microscope) dimana prinsip kerjanya dengan menggunakan mikroskop tenaga elektron sehingga dapat melakukan perbesaran hingga beribu-ribu kali.

· Uji distribusi ukuran dengan Fritsch Particle Sizer, dan ayakan mesh Tyler

· Uji porositas berdasarkan SNI 13-3604-1994

· Uji densitas berdasarkan SNI 13-3602-1994

Tabel 5. Komposisi kimia abu pada limbah PLTU Suralaya


Karakteristik abu PLTU Suralaya dapat dilihat pada Tabel 5 masing-masing mengandung Al2O3 30,8% dan 24% serta mengandung SiO2 sebanyak 54% dan 63,4%. Karena kandungan CaO sekitar 4% maka abu ini termasuk kualitas ASTM kelas “C” yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing castables refractory yang tahan suhu relatif rendah, padahal yang diinginkan adalah klasifikasi low/ultra-low cement castable refractory yang tahan suhu tinggi. Kandungan CaO maksimum 1% adalah kualitas ASTM kelas “F”. Oleh karena itu, diperlukan penambahan aluminium oksida ke dalam abu batubara untuk mengurangi kadar CaO, Fe2O3. Komposisi kimia limbah PLTU-Suralaya seperti terlihat pada Tabel 1 menunjukkan bahwa Kadar Al2O32 yaitu Al2O3 : SiO2 = 30,8% : 50% atau nilai Al2O3/SiO2=0,57. Bahan refraktori yang baik harus memiliki kadar Al2O3>SiO2 dengan perbandingan Al2O3 : SiO2 = 65% : 35% atau nilai Al2O3/SiO2=1,85. Oleh karena itu, limbah abu terbang dan abu dasar PLTU-Suralaya dapat digunakan sebagai bahan penambah pembuatan refraktori.

a. Pembuatan Refraktori Cor

Pada prinsipnya pembuatan refraktori cor sama dengan pembuatan refraktori bata, hanya saja produk refraktori cor dibuat berbentuk bubuk, sedangkan produk refraktori bata dibuat/dicetak berbentuk bata. Bahan baku refraktori cor pada umumnya dibuat dari mineral yang ada di alam, terdiri dari campuran aggregate dan binder dengan perbandingan tertentu. Ada berbagai jenis aggregate yang berfungsi sebagai grog antara lain kalsium silikat, tabular alumina. Grog adalah material granular yang dibuat dari bahan tahan api hancur (crushed brick) sebagai pengisi bodi berukuran kasar yang dapat berfungsi mengurangi shrinkage dan thermal expansion, serta meningkatkan stabilitas saat mengalami suhu tinggi. Ada berbagai jenis binder antara lain clay atau chamotte, kalsium aluminat. Aggregate dan binder dicampur menggunakan mesin homogenizer. Campuran aggregate + binder + abu terbang kemudian dibakar/disinter pada suhu tinggi (>1300 °C) agar membentuk klinker. Klinker digerus untuk mendapatkan ukuran tertentu sesuai persyaratan perdagangan. Klinker halus ini adalah produk akhir yang disebut sebagai refraktori cor. Berdasarkan sifatnya abu terbang dapat berfungsi ganda, yaitu sebagai aggregate sekaligus binder. Penelitian pembuatan refraktori cor dengan menggunakan abu terbang ini diharapkan dapat mengurangi pemakaian aggregate dan binder yang harganya mahal dalam pembuatan refraktori cor. Refraktori cor dibuat dari campuran agregat dan binder. Agregat terdiri atas abu terbang, grog (crushed brick), dan aluminium oksida. Sebagai binder adalah calcium aluminate. Abu terbang memiliki fungsi ganda selain sebagai agregat juga sebagai binder. Campuran agregat dan binder dibuat dalam beberapa komposisi dengan nilai Al2O3 / SiO2 sebesar 1,5 sampai 2,4. Setiap campuran diaduk dengan alat homogenizer untuk mendapatkan campuran yang homogen. Terhadap masing-masing campuran pengujian distribusi ukuran butir, komposisi mineral, komposisi kimia, dan bulk density. Campuran ditambah 15% air dan diaduk sampai merata membentuk adonan. Adonan dicorkan ke dalam cetakan yang telah disiapkan dan dibiarkan sampai mengering. Hasil adonan ini disebut komposit mentah. Kemudian hasil adonan tersebut di uji dengan uji porositas,densitas, tekstur. Dan juga melakukan pengujian kerefraktoriannya dengan teknik uji PCE dan uji pembakaran firing. Sebagai pembanding (kontrol) adalah hasil uji salah satu refraktori cor komersial. Porositas diuji berdasarkan SNI 13-3604-1994, dan uji densitasnya berdasarkan SNI 13-3602-1994, tekstur diuji menggunakan SEM. Uji pembakaran untuk menentukan nilai PCE didasarkan pada SNI 15-4936-1998. Dapur untuk pembakaran digunakan muffle furnace. Pengambilan contoh menggunakan teknik basung prapat, uji distribusi ukuran menggunakan Fritsch Particle Sizer dan ayakan mesh Tyler. Uji mineralogi dengan X-RD, dan analisis kimia dengan AAS.

1. Hasil Dan Pembahasan

a. Karakteristik Fly Ash(Abu terbang) di PLTU surabaya

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti maka dapat di ketahui dan di informasikan bahwa :

1) Distribusi ukuran butiran :

Dari hasil analisis distribusi ukuran menggunakan Fritch particle sizer, menunjukkan bahwa ukuran partikel-partikel abu terbang di PLTU Suralaya berkisar antara 0.31 - 300.74 µm, dengan distribusi 80% berukuran 0.31 - 40.99 µm, atau d50 = 6,22 µm. Ukuran partikel yang sangat halus ini Sangat cocok sebagai bahan pengisi (fine grog) dalam sistem refraktori cor. Bentuk partikelnya menunjukkan bentuk-bentuk membulat (spheres), berukuran kira-kira <15>


Gambar 1. merupakan material aluminium Silikat

Partikel-partikel yang membulat tersebut satu sama lain terlepas (tidak berikatan). Bentuk partikel fly ash yang membulat ini kemungkinan disebabkan karena pada saat aluminosilikat mengalami pembakaran suhu tinggi dalam boiler PLTU, alkali di permukaan partikel meleleh. Terlihat pada Gambar 1. bahwa permukaan partikel membulat tersebut tidak merata yang menunjukkan kemungkinan proses pelelehannya belum sempurna. Partikel-partikel yang permukaannya meleleh belum sempurna dan berukuran halus ini cenderung bergerak/berputar di dalam boiler akibat tekanan udara panas dan terbang melalui cerobong sehingga disebut abu terbang.

Partikel halus yang membulat cocok untuk digunakan sebagai bahan tahan api cor, karena memiliki sifat lambat pengendapan dan self flowing yang lebih baik. Jika di lihat dari keunggulan pada sifat pengendapan yang lambat, cenderung membentuk distribusi merata, sehingga produk refraktori cor yang di produksi akan mempunyai struktur fisik yang uniform dengan daya tahan abrasif yang lebih baik. Mullite(3Al2O3.2SiO2) yang terdeteksi melalui XRD mungkin jumlahnya sangat kecil, karena tidak Unsur-unsur yang terkandung dalam abu terbang itu sendiri seperti C-K, Al-K Si-K dan Fe-K dengan komponen C = 32,5%, Al2O3 = 3,98%, SiO2 = 4,5% dan FeO = 59%. Kenampakan bentuknya dilihat dengan adanya tekstur menjarum/memanjang (tekstur khas mulite) seperti pada tekstur refraktori cor komersial. Selain itu juga belum nampak adanya tekstur yang berikatan satu sama lain yaitu tekstur akibat perlakuan suhu tinggi/pelelehan. Oleh karena itu, abu terbang-PLTU Suralaya belum bersifat refraktori.

1) Tekstur:

Hasil uji spot EDS menggunakan SEM terhadap butiran kasar (+30 mesh) dan butiran halus (-200 mesh) menunjukkan, butiran kasar bertekstur seperti butiran gula pasir (sugary) yang berukuran <>μm, dan partikel halus (fine) menunjukkan sugary dan tekstur jarum (needle) yang panjangnya sekitar 3 μm.

2) Komposisi mineral :

Hasil uji terhadap contoh abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan bahwa mineral dominannya adalah kuarsa dan sedikit mullite. Keberadaan mullite menunjukkan bahwa aluminosilikat pada abu terbang telah mengalami kontak dengan suhu tinggi di dalam tungku pembakaran batubara PLTU. Mullite (3Al2O3.2SiO2) adalah mineral alumina silikat yang tahan terhadap suhu tinggi hingga sekitar 1875°C, tetapi karena masih ada mineral kuarsa kemungkinan ketahanan terhadap suhu akan berkurang.

3) Komposisi kimia :

Komposisi kimia disajikan pada Tabel 2. menunjukkan bahwa nilai Al2O3/SiO2 = 0,16 yang berarti kadar alumina sangat kecil dibandingkan dengan silikanya. Jika dibandingkan dengan data dalam Tabel 6. (PT PLN, 1997), terlihat kadar alumina lebih tinggi dengan nilai Al2O3/SiO2 = 0,6. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena komposisi batu bara yang digunakan dulu dengan saat ini oleh PLTU-Suralaya sudah berubah. Saat ini batu bara yang digunakan berasal dari PT. Adaro. Selain itu juga terlihat ada senyawa pengotor seperti Fe2O3, TiO2, CaO, K2O dan Na2O yang relatif tinggi, sehingga mungkin akan menurunkan kualitas refraktori. Dengan kandungan CaO sekitar 3,2% maka abu terbang ini termasuk klasifikasi ASTM kelas “C” yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing castables refractory yang tahan suhu relatif rendah. Berdasarkan kandungan mineral dan komposisi kimianya seperti terlihat pada Tabel 8. maka abu terbang ini selain berfungsi sebagai bahan pengisi berbutir halus (fine grog) juga dapat berfungsi sebagai binder dalam sistem refraktori.

Data yang ditunjukkan pada Tabel 7. adalah komposisi kimia abu PLTU-Suralaya hasil pengujian menurut laporan teknik PT PLN, 1977. Data tersebut memperlihatkan kandungan Al2O3 yang relatif lebih tinggi yaitu 30,8% untuk abu terbang dan 24% untuk abu dasar. Juga kandungan SiO2 yang lebih rendah yaitu 54% untuk abu terbang dan 63,4% untuk abu dasar. Untuk abu terbang, nilai perbandingan Al2O3/SiO2 adalah 0,57. Kandungan CaO relatif tinggi yaitu sekitar 4%. Menurut klasifikasi ASTM, abu terbang dengan nilai kandungan CaO tersebut termasuk kelas “C”, yang lebih cocok berfungsi sebagai bahan cementing castables refractory yang tahan suhu relatif rendah. Untuk mencapai kualitas refraktori yang tahan suhu tinggi, kandungan CaO maksimum 1%. Kualitas ini termasuk low/ultra-low cement castable refractory, yaitu klasifikasi ASTM kelas “F” (Hwang,1991). Oleh karena itu, untuk mencapai komposisi kimia refraktori diperlukan penambahan aluminium oksida atau bahan yang mengandung Al2O3 tinggi ke dalam abu terbang guna mengurangi kadar SiO2, CaO, K2O, Na2O, Fe2O3 sehingga dapat mendekati komposisi kimia refraktori cor komersial, dan memiliki nilai Al2O3/SiO2 sekitar 1,6 – 1,85.

Komponen/senyawa kimia yang terdeteksi dari analisis SEM untuk butiran kasar terdiri atas Al2O3=72,7%, SiO2=16,6%, CaO=1,18%, ZrO2=9,4% dan FeO dan MoO3 dalam kadar rendah. Adapun partikel halus terdiri atas senyawa Al2O3=72,2%, SiO2=8,9%, ZrO2=5,71%, Ta2O5=13,2% dan CaO, MgO, C kadar rendah. Keberadaan senyawa Zirkonia dan Tantalum menambah ketahanan refraktori terhadap suhu tinggi. Adanya komponen C (karbon) kemungkinan berasal dari bahan abu terbang atau waktu proses sinterisasi menggunakan bahan bakar batu bara.

Tabel 6. Komposisi kimia Fly ash PLTU Suralaya


Tabel 7. Komposisi kimia pada limbah PLTU Suralaya

Tabel 8. Tipikal Komposisi kimia Grog

b. Pembuatan Refraktori Cor Dan Membandingkan Dengan Komposisi/ Karakteristik Yang Dimiliki Oleh Refraktori Cor Komersial

1) Rekayasa dan Hasil Penghitungan Komposisi

Dari hasil karakterisasi abu terbang PLTU-Suralaya selanjutnya diperlukan penelitian untuk merekayasa dan menghitung komposisi bahan baku refraktori cor (komposit mentah) yang terdiri dari 4 komponen : abu terbang, grog aluminosilikat (crushed brick), aluminium oksida, dan calcium aluminate (sebagai pengikat atau binder). Grog adalah material granular yang dibuat dari bahan tahan api hancur (crushed brick) sebagai pengisi bodi berukuran kasar yang dapat berfungsi mengurangi shrinkage dan thermal expansion, meningkatkan stabilitas saat mengalami suhu tinggi. Abu terbang mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai grog, pengisi refraktori berbutir halus dan sebagai binder atau perekat karena di dalamnya mengandung calcium aluminate.

Sebagai bahan grog kasar, digunakan aluminosilikat yang telah mengalami perlakuan suhu tinggi dan telah dipecah (crushed brick). Salah satu tipikal grog untuk refraktori cor biasanya dibuat berukuran ± 30 mesh, yang mana komposisi mineralnya terdiri dari: corundum, mullite dan cristobalite. Komponen lainnya adalah aluminium oksida (Aloxi) yang berfungsi untuk menambah kandungan Al2O3 sehingga sifat kerefraktorian dari refraktori cor diharapkan menjadi meningkat. Kalsium aluminate (Ca-aluminate) berfungsi sebagai bahan pengikat, terutama saat pembentukan atau pencetakan untuk mempercepat waktu pengeringan dan pengerasan (setting time). Salah satu tipikal komposisi yang kemungkinan bisa dibangun dan diuji adalah seperti disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9. Tipikal Komposisi Kimia Grog, Aloxi, Ca-aluminate

Campuran bahan baku (abu terbang, grog, alumunium oksida, calcium aluminate) berdasarkan volumenya dengan perbandingan Al2O3/SiO2 tertentu yang telah tercampur secara homogen membentuk suatu komposit mentah refraktori cor.

Selanjutnya dilakukan rekayasa komposisi yang dibuat dengan perbandingan komponen komposit mentah seperti ditunjukkan pada Tabel 10, menghasilkan tipikal komposisi kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11. Nilai Al2O3/SiO2 tertinggi dicapai pada komposit mentah kode “A” yaitu 1,69. Nilai ini dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ- 16. Komposit mentah kode “B” dan “D” dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ-14.

Tabel 10. Rekayasa Komposisi Komposit Mentah Refraktori Cor


Tabel 11. Hasil Perhitungan Komposisi Kimia Komposit Mentah Refraktori Cor

Untuk contoh rekayasa campuran menggunakan bahan baku aluminium oksida, grog dan calcium aluminate tanpa abu terbang memberikan kadar Al2O3 yang tinggi tetapi dengan penambahan abu terbang yang semakin banyak kadar Al2O3 cenderung menurun drastis. Selanjutnya Gambar menunjukkan bahwa penambahan semen ca-aluminate hanya meningkatkan kadar Al2O3 relatif kecil.

Gambar 2. Pengaruh penambahan aluminate terhadap kadar Al2O3 pada campuran (abu, crushed brick, aloxi = 3 : 2 : 1)

Sebaliknya dilakukan penambahan alumina oksida yang semakin banyak, yang ternyata dapat menaikkan kadar Al2O3 secara signifikan (Gambar 3).

Gambar 3. Pengaruh penambahan Alumina Oksida terhadap kadar Al2O3 pada campuran (abu, semen, crushed brick = 3 : 2 : 2)

1) Uji Hasil Cetak Refraktori Cor

Benda uji dibuat melalui cetakan berbentuk silinder berdiameter 4 cm dan tinggi 4,5 cm, dengan cara menuangkan adonan komposit mentah ke dalamnya. Sebelum penuangan, adonan dibuat terlebih dahulu dengan menambahkan 15-20% air pada komposit mentah dan diaduk sampai rata, kemudian dituangkan ke dalam cetakan dan dibiarkan sampai mengeras (setting). Pengamatan secara visual menunjukkan, benda-benda uji mentah tersebut umumnya mempunyai setting time <>

Tabel 12. Sifat fisik benda uji mentah refraktori cor dan nilai kerefraktoriannya

No

Kode benda uji

Setting time (jam)

Bulk density (g/ml)

Porositas (%)

PCE

(SK.No)

Titik leleh

(oC)

1

2

3

4

5

6

CAJ-16

CAJ-14

A

B

C

D

<24

<24

<24

<24

<24

<24

2,58

2,43

1,82

1,80

1,97

1,85

23,04

27,14

41,11

42,79

37,36

41,32

SK.34

SK.16

SK.16

SK.16

SK.12

SK.1O

1750

1460

1460

1460

1350

1300

Uji pembakaran untuk menentukan nilai kerefraktoriannya dilakukan melalui teknik uji PCE, hasil ujinya juga dapat dilihat pada Tabel 12. Dari data uji menunjukkan bahwa semua benda uji memiliki setting time kurang dari 24 jam, benda uji yang dibuat dari contoh refraktori komersial yaitu CAJ-16 memiliki densitas paling tinggi (2,6 g/ml), tetapi memiliki porositas paling rendah (23%). Hasil uji PCE terhadap CAJ-16 memberikan nilai paling tinggi yaitu SK-34 yang setara dengan ketahanan suhu maksimum 1750°C. Selain itu terlihat pula dari Tabel 11. adanya kecenderungan penurunan ketahanan terhadap suhu dengan bertambahnya komponen abu terbang yang secara grafis diperlihatkan pada Gambar 4. Hal ini kemungkinan disebabkan karena abu terbang memiliki kandungan SiO2 yang tinggi, berarti dalam campuran terjadi peningkatan komposisi SiO2 yang secara teoritis menurut kurva titik leleh dan kerefraktorian akan menurunkan ketahanan suhunya (penurunan nilai PCE). Senyawa alkali yang terkandung dalam abu terbang seperti CaO, K2O dan Na2O turut mempengaruhi turunnya nilai PCE. Dalam klasifikasi refraktori, low/ultra-low cement castable refractory yang tahan suhu tinggi, kandungan CaO nya maksimum 1% (kualitas ASTM kelas “F”) (tekmira mei).


Gambar 4. Pengaruh penambahan abu terbang terhadap ketahanan suhu

Meskipun demikian dari data yang ada di dalam Tabel 11 terlihat adanya perlakuan lain yang cukup signifikan yaitu dengan penambahan abu terbang yang relatif banyak masih dapat mempunyai nilai PCE relatif tinggi yaitu SK-16 seperti pada kode contoh “A” dan “B” jika penambahan volume semen aluminat atau volume crushed brick juga relatif tinggi yaitu abu terbang : semen aluminate : crushed brick : alumina oksida = 3 : 2 : 3 : 2.

Dengan demikian, komposisi campuran bahan baku yang terbaik dalam percobaan ini adalah abu terbang, calcium aluminate, grog, aluminium oksida dengan perbandingan volume masing-masing 3 : 2 : 3 : 2 (A) atau 3 : 3 : 3 : 1 (B) dengan nilai PCE = SK-16 yang setara dengan ketahanan suhu 1460°C. Perbandingan komposisi Al2O3/SiO2 = 1,69 mendekati / sama dengan komposisi refraktori cor komersial yaitu Al2O3/SiO2 = 1,62 (lihat Tabel 10 dan 12, kode benda uji “CAJ-16” dan “A”).

Peningkatan kadar Al2O3 dapat meningkatkan ketahanan refraktori terhadap suhu. Tetapi dalam percobaan ini, upaya peningkatan kadar Al2O3 dalam campuran bahan baku dengan menambahkan alumina oksida (corundum) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap ketahanan suhu, bahkan cenderung nilai ketahanan suhunya turun. Penambahan alumina oksida sebanyak 3(tiga) bagian memberikan nilai ketahanan suhu paling rendah yaitu 1280°C – 1300°C. Perlakuan ini mungkin saja disebabkan karena corundum yang ditambahkan adalah bahan yang sudah stabil/inert, sehingga waktu pembentukan bahan uji dengan ditambahkan air serta waktu pembakaran bahan uji tidak terjadi reaksi kimia.

Bahan-bahan baku yang telah dicampur menjadi komposit mentah dan telah dicetak membentuk benda uji mentah dengan cara menambahkan air (15 –20%) bereaksi membentuk komposit baru yang mempunyai karakteristik berbeda dari bahan asalnya serta mempunyai sifat kerefraktorian yang lebih baik (tekmira mei).

(a)

(b)

Gambar 5. (a) bentuk mikrostruktur CAJ-16 (b) bentuk mikrostruktur B

Gambar 5 menunjukkan adanya perbedaan tekstur yang mencolok antara refraktori komersial yang telah ditambah air (contoh benda uji mentah “CAJ-16”) dengan refraktori rekayasa hasil campuran bahan-bahan baku (abu terbang + calcium aluminate + grog + aluminium oksida) yang juga telah ditambah air yang sama (contoh benda uji mentah “B”). CAJ-16 teksturnya didominasi bentuk serat memanjang tajam seperti ciri khas silika dan terlihat kompak (padat) saling berikatan. Porositasnya 23% dengan bulk density sekitar 2,6 g/ml. Mineral-mineralnya sama seperti contoh sebelum dicetak yaitu corundum, mullite dan cristobalite. Dari hasil uji dan pengamatan ini juga tampak bahwa bubuk refraktori cor komersial merupakan bahan refraktori yang sangat reaktif terhadap air dengan membentukstruktur baru, struktur yang tahan terhadap suhu maksimum 1750°C. Sebaliknya contoh “B” strukturnya didominasi oleh fragmen-fragmen yang membentuk aglomerat yang terdiri dari partikel-partikel menyudut dan partikel-partikel membulat (sphere ) yang berasal dari abu batubara. Di antara fragmen-fragmen aglomerat tersebut membentuk rongga-rongga yang terlihat poros. Porositasnya 42,8% dengan bulk density 1,8 g/ml. Jika dibandingkan dengan contoh benda uji mentah CAJ-16 ternyata bubuk rekayasa refraktori cor belum menunjukkan reaktifitas yang tinggi terhadap air, namun hanya mampu membentuk aglomerat dengan porositas tinggi. Kandungan mineral-mineralnya sama seperti contoh bahan rekayasa sebelum dicetak yaitu corundum, mullite dan cristobalite. Struktur ini hanya mampu tahan terhadap suhu maksimum 1460°C.

2) Pembakaran (Firing) terhadap Benda Uji

Benda uji bakar (firing ) selama 1 jam pada suhu 1000°C. Terlihat bahwa hasil uji bakar menunjukkan kekerasan benda uji menjadi lebih tinggi.

1. Kesimpulan

  • Dari hasil analisis distribusi ukuran menggunakan Fritch particle sizer, menunjukkan bahwa ukuran partikel-partikel abu terbang di PLTU Suralaya berkisar antara 0.31 - 300.74 µm, dengan distribusi 80% berukuran 0.31 - 40.99 µm, atau d50 = 6,22 µm. Ukuran partikel yang sangat halus ini Sangat cocok sebagai bahan pengisi (fine grog) dalam sistem refraktori cor.
  • Partikel halus yang membulat cocok untuk digunakan sebagai bahan tahan api cor, karena memiliki sifat lambat pengendapan dan self flowing yang lebih baik.
  • Hasil uji spot EDS menggunakan SEM terhadap butiran kasar (+30 mesh) dan butiran halus (-200 mesh) menunjukkan, butiran kasar bertekstur seperti butiran gula pasir (sugary) yang berukuran <>μm, dan partikel halus (fine) menunjukkan sugary dan tekstur jarum (needle) yang panjangnya sekitar 3 μm.
  • Hasil uji terhadap contoh abu terbang PLTU-Suralaya menunjukkan bahwa mineral dominannya adalah kuarsa dan sedikit mullite.
  • Komposisi kimia abu PLTU-Suralaya hasil pengujian menurut laporan teknik PT PLN, 1977. Data tersebut memperlihatkan kandungan Al2O3 yang relatif lebih tinggi yaitu 30,8% untuk abu terbang dan 24% untuk abu dasar. Juga kandungan SiO2 yang lebih rendah yaitu 54% untuk abu terbang dan 63,4% untuk abu dasar. Untuk abu terbang, nilai perbandingan Al2O3/SiO2 adalah 0,57. Kandungan CaO relatif tinggi yaitu sekitar 4%.
  • Pada rekayasa komposisi yang dibuat dengan perbandingan komponen komposit mentah seperti ditunjukkan pada Tabel 10, menghasilkan tipikal komposisi kimia seperti yang ditunjukkan pada Tabel 11. Nilai Al2O3/SiO2 tertinggi dicapai pada komposit mentah kode “A” yaitu 1,69. Nilai ini dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ- 16. Komposit mentah kode “B” dan “D” dapat memenuhi refraktori cor komersial tipe CAJ-14.
  • Dari data uji cetak refraktori cor menunjukkan bahwa semua benda uji memiliki setting time kurang dari 24 jam, benda uji yang dibuat dari contoh refraktori komersial yaitu CAJ-16 memiliki densitas paling tinggi (2,6 g/ml), tetapi memiliki porositas paling rendah (23%). Hasil uji PCE terhadap CAJ-16 memberikan nilai paling tinggi yaitu SK-34 yang setara dengan ketahanan suhu maksimum 1750°C.
  • Pda uji pembakaran refraktori cor, Benda uji bakar (firing ) selama 1 jam pada suhu 1000°C. Terlihat bahwa hasil uji bakar menunjukkan kekerasan benda uji menjadi lebih tinggi.

2. Daftar Pustaka

Aziz1, Muchtar, Ngurah Ardha Dan Lili Tahli. 2006. Karakterisasi Abu Terbang PLTU Suralaya Dan Evaluasinya Untuk Refraktori Cor. www.tekmira.esdm.go.id. Di akses pada tanggal 27 Februari 2009.

Aziz2, Muchtar, Ngurah Ardha. 2006. Percobaan Pendahuluan Pembuatan Refraktori Cor dari Abu Terbang Suralaya. www.tekmira.esdm.go.id. Di akses pada tanggal 27 Februari 2009.

Koesnadi, Heri.2008. Fly Ash. http://heri-mylife.blogspot.com/2008/06/fly-ash.html. Di akses pada tanggal 27 Februari.



Read more »

Kamis, 19 Maret 2009

IMTLI Ajarkan Cara Daur Ulang Kertas

Edukasi Zero Waste IMTLI dan Kementrian LH dalam Event Java Jazz Music Festival 2009

IMTLI (Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia) – periode ini kepengurusan dipegang oleh Mahasiswa Teknik Universitas Trisakti - memperkenalkan teknik daur ulang kertas yang sangat bermanfaat buat masyarakat luas. Teknik daur ulang kertas ini sangat sederhana dan cukup efektif bagi para pelajar, mahasiswa hingga karyawan dalam menyiasati kebutuhan kertas tulis sehari-hari. Perlu diketahui bahwa 20,5% total sampah warga Jakarta adalah sampah kertas !
IMTLI juga terlibat dalam acara International Java Jazz Music Festival pada tanggal 6-8 Maret 2009 dalam partisipasinya mempromosikan Zero Waste Management yang bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup RI. Selama acara Java Jazz berlangsung, pihak IMTLI ikut terlibat dalam menampung ribuan sampah organik dan non-organik yang berasal dari ribuan pengunjung termasuk kalangan musisi. Kemudian sampah-sampah tersebut diproses menjadi aneka produk daur-ulang sampah. Tentunya produk tersebut bernilai ekonomis.


[Sampah yang berhasil dikumpulkan oleh IMTLI selama acara Java Jazz Festival 2009]

Sampah yang berhasil dikumpulkan oleh IMTLI selama acara Java Jazz Festival 2009
Di bawah ini dijelaskan cara dan alat yang dibutuhkan untuk daur-ulang kertas versi IMTLI, yakni sbb:

Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan kertas daur ulang :

1. BLENDER, fungsinya untuk menghancurkan kertas menjadi bubur kertas, atau dapat juga dimodifikasi dengan alat penghancur yang lebih besar.
2. BINGKAI CETAKAN, terdiri dari 2 bingkai dengan ukuran yang sama. Salah satu bingkai dilapisi dengan kain kasa.
3. EMBER KOTAK, fungsinya sebagai tempat pencampuran bubur kertas dengan air, sekaligus sebagai wadah pencetakan.
4. ALAS CETAK, fungsinya untuk tempat pengeringan kertas daur ulang dari bingkai cetakan, sehingga bingkai cetakan dapat digunakan kembali. Alas cetak ini bisa berupa tripleks yang dilapisi kain katun atau juga dapat berupa matras yang biasa digunakan untuk alas tidur kemping.
5. SPONDS PENGHISAP, fungsinya untuk menghisap air pada waktu transfer dari bingkai cetakan ke alas cetak.
6. GELAS PENAKAR, fungsinya untuk menakar perbandingan antara bubur kertas dengan air. Alat ini tidak mutlak ada.
7. ALAT PRESS, fungsinya untuk mengepress kertas daur ulang agar serat-seratnya dapat lebih rapat. Alat ini dapat berupa dua papan kayu yang berukuran sama dengan bingkai cetak, yang keempat sudutnya diberi lubang. Selanjutnya masing-masing lubang diberi mur dan baut penjepit untuk mempertemukan kedua sisi papan kayu tersebut.
8. EMBER wadah bubur kertas.
9. KOMPOR & PANCI, fungsinya untuk merebus berbagai macam serat dan pewarna alam.
10. ALU & LUMPANG, fungsinya untuk menumbuk berbagai serat agar lebih halus.
11. SENDOK KAYU, fungsinya untuk mengadukberbagai campuran.
12. PISAU & GUNTING, fungsinya untuk memotong-motong serat tumbuhan.
13. SARINGAN TEH BESAR.
14. KAIN LAP.

Cara Pembuatan Kertas Daur Ulang:

1. Kertas bekas yang telah disobek-sobek sebesar perangko, direndam minimal 12 jam agar serat-seratnya menjadi lunak diresapi air. Perendaman dapat pula dibantu dengan perebusan untuk mempercepat proses peresapan air.
2. Kertas yang telah lemas direndam air / direbus, dihancurkan dengan blender. Dengan perbandingan 1 ; 4 (4 bagian air untuk 1 bagian kertas). Lama pemblenderan tidak lebih dari 1 menit, sebaiknya dilakukan 2 kali pemblenderan dengan interval 30 detik saja.
3. Bubur kertas yang diperoleh dari pemblenderan dikumpulkan dalam satu wadah. Selanjutnya dapat dilakukan pencucian untuk mengurangi kadar asamnya dengan cara menyaring bubur kertas pada kain yang agak lebar dan meletakkannya di atas ember berisi air. Dengan demikian bubur kertas dapat dicuci sekaligus memisahkan potongan potongan kertas yang mungkin belum hancur akibat pemblenderan.
4. Selanjutnya bubur kertas siap untuk diolah, dapat dicetak langsung maupun dilakukan pencampuran warna dan serat. Masukan bubur kertas yang hanya bercampur dengan warna saja, atau bercampur dengan serat saja, atau bercampur dengan pewarna dan serat maupun bubur kertas tanpa campuran, ke dalam ember kotak tempat cetakan. Perbandingan antara jumlah air dan bubur kertas tetap 4 : 1 (4 bagian air untuk 1 bagian bubur kertas). Aduk-aduk hingga campuran air dan bubur kertas merata.
5. Masukkan bingkai cetakan, dengan posisi bingkai cetak yang memakai kain kassa berada dibawah dan bingkai kosong dibagian atas sisi kain kassa. Masukkan hingga kedasar ember cetak, dengan hati-hati. Atur posisi bingkai cetak agar datar dan sejajar permukaan air. Kemudian angkat bingkai tersebut dengan hati-hati dalam posisi datar. Bubur kertas akan tercetak dipermukaan bingkai dengan bentuk seperti selembar kertas yang basah. Angkat bingkai penutup dengan cepat, jangan sampai airnya memerciki lembaran kertas yang masih basah tadi. Kemudian ditiriskan dalam posisi miring sekitar 30 derajat hingga airnya tinggal sedikit. Selanjutnya kertas basah tersebut siap untuk ditransfer ke atas permukaan alas cetak untuk dikeringkan.
6. Bingkai cetak dibalik, sehingga kertas basah menghadap ke alas cetak. Letakkan bingkai cetak dengan kertas basah tersebut pada alas cetak dengan hati-hati. Pada bagian atas bingkai cetak atau sisi sebaliknya dari kertas basah dapat dilakukan pengeringan dengan menggunakan spon. Selain untuk mempercepat pengeringan juga untuk mempermudah proses pemindahan kertas. Jika sudah cukup keringda bingkai cetak sudah dapat diangkat dari alas cetak, lakukan dengan hati-hati agar kertas tersebut tidak cacat.
7. Kertas yang telah dipindahkan ke alas cetak tinggal menunggu kering saja, tetapi sebaiknya tidak dijemur dibawah matahari langsung. Dapat juga diselingi dengan pengepresan sewaktu kertas belum kering, dengan cara lapisi setiap lembar kertas dengan kain dan tumpuk sampai beberapa lapis kemudian diletakkan diantara papan pengepresan, lakukan selama kira-kira 10 menit. Jika kertas sudah kering, pengepresan dilakukan selama 1 jam.

from :http://www.wargahijau.org/index.php?option=com_content&view=article&id=174:imtli-ajarkan-cara-daur-ulang-kertas&catid=7:green-product&Itemid=12
Read more »

Selasa, 10 Maret 2009

BAKTERI COLIFORM

Menurut hasil penelitian, sebagian air tanah yang ada di beberapa kota tercemar bakteri coliform, e-coli, dan salmonella. Bahkan beberapa sampel air terdeteksi mengandung logam berat cadmium. Air yang akan dikonsumsi manusia seharusnya tak mengandung bakteri coliform. Sejatinya, bakteri coliform tidak bisa diremehkan. Mikrobiologi ini merupakan kelompok besar dari beberapa bakteri penyakit, seperti escheria coli dan enterrobacter aerogenes. Biasanya, bakteri ini berasal dari kotoran manusia ataupun hewan.

Dosen yang expert di bidang mikrobiologi mengatakan, pada air yang tidak higienis biasanya masih terdapat bakteri E. coli dan semacam bakteri Coliform. Coliform adalah kelompok bakteri Gram negatif berbentuk batang yang pada umumnya menghasilkan gas (toksik) jika ditumbuhkan dalam medium laktosa. Salah satu anggota kelompok coliform adalah E. coli dan karena E. coli adalah bakteri coliform yang ada pada kotoran manusia maka E. coli sering disebut sebagai coliform fekal, Aerobacter aerogenes, dan Eschericia freundii. Sifat bakteri golongan coliform adalah berbentuk batang, tidak dapat membentuk spora, gram negatif, hidup aerob atau anaerob fakultatif, dan dapat meragikan laktosa dengan membentuk gas.

Mikroba seperti Coliform dan E.coli, sebenarnya akan aman apabila ada di tubuh kita, karena bakteri E.coli sendiri sebenarnya ada dalam organ pencernaan kita. Tapi apabila bakteri E.coli dan Coliform yang terminum dari air yang tidak bersih itu bakal berbahaya. Karena air yang tercemar coliform dapat mengakibatkan penyakit-penyakit saluran pernafasan

Pemeriksaan bakteriologis air bersih ditujukan untuk melihat adanya kemungkinan pencemaran oleh kotoran maupun tinja. Karena uji E. coli yang kompleks, maka beberapa standar, misalnya Standar Nasional Indonesia (SNI), mensyaratkan tidak adanya coliform dalam 100 ml air minum. Pengujian koliform jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan uji E. coli , karena hanya memerlukan Uji penduga yang merupakan tahap pertama uji E coli 4 tahap di atas. Apa artinya jika terdapat coliform dalam air minum atau makanan? Artinya ada kemungkinan air atau makanan itu mengandung E. coli , tetapi mungkin juga tidak mengandung E. coli karena bakteri-bakteri bukan patogen dan bukan asal usus dari genus Enterobacter dan beberapa Klebsiella juga menghasilkan uji koliform positif. Jika ingin diketahui apakah coliform tersebut merupakan coliform fekal atau E. coli maka uji tersebut dapat dilanjutkan dengan uji 4 tahap di atas. Akan tetapi jika uji penduga tidak menunjukkan adanya coliform, maka tidak perlu dilakukan uji 4 tahap di atas. Pada air bukan untuk minum umumnya terdapat perbedaan persyaratan coliform dan E. coli . Air untuk kolam renang misalnya mensyaratkan kandungan coliform <2.4>3 , tetapi syarat E. coli tentunya lebih ketat yaitu <>3 dalam 100 ml.

Untuk mengetahui jumlah Coliform didalam sampel biasanya digunakan metode MPN (Most Probable Number) dengan cara fermentasi tabung ganda. Metode ini lebih baik bila dibandingkan dengan metode hitungan cawan karena lebih sensitif dan dapat mendeteksi Coliform dalam jumlah yang sangat rendah di dalam sampel.

Hasil penelitian terhadap air sumur yang berasal dari air sumur bor tidak mengalami pencemaran oleh bakteri, sehingga air sumur bor dapat dikonsumsi menjadi air minum. Untuk air yang berasal dari sumur gali sebagian besar tercemar oleh bakteri E.Coli dan bakteri Coliforms, sehingga air sumur yang berasal dari sumur gali sebagian tidak boleh dikonsumsi menjadi air minum. Bakteri coliform lebih banyak pada air permukaan yang berhubungan dengan pembuangan kotoran manusia.

Sumber dari Bakteri coli tinja (Fecal coliforms) adalah sebagai berikut:

- limbah domestik: 106-1010 (MPN/100ml)

- efluen tangki septic tank: 105-107 (MPN/100ml);

Read more »

PENGGUNAN GEOGRAPHICAL INFORMATION SYSTEM (GIS) PADA PEMBANGUNAN

PENGGUNAN GEOGRAPHICAL INFORMATION SYSTEM (GIS)
PADA PEMBANGUNAN

MAHFUZ IDAFI
dafi017_telink07@yahoo.co.id
S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKUARAT

Abstrak
GIS merupan sebuah system komputer mampu penerapan, menyimpan, manipulasi, dan menampilkan secara geografis referensi Informasi. Peluang penggunaan sitem GIS sangat terbuka lebar disemua bidang baik dinegara maju maupun dinegara berkembang.
Makalah ini membahas beberapa dari unsur-unsur pendukung dari sitem GIS dan penerapannya pada kehidupan nyata dalam perencanaan pembangunan wilayah melalui studi kasus.
Kata Kunci: GIS, Penggunaan system GIS, Pembangunan wilayah


1. Pendahuluan
Geographical Information System (GIS) adalah sistem berbasis komputer yang memungkinkan pengguna untuk mengumpulkan, menyimpan, memproses, menganalisa dan menyajikan data spasial. GIS memberikan perwakilan informasi elektronik,yang disebut data spasial, tentang alam bumi dan fitur buatan manusia. Referensi GIS adalah data spasial unsur dunia nyata yang diubah ke sistem koordinat. Fitur tersebut dapat dipisahkan ke dalam beberapa lapisan. Sistem GIS menyimpan setiap informasi dalam kategori terpisah "lapisan" untuk kemudahan pemeliharaan, analisis, dan visualisasi. Misalnya, lapisan dapat mewakili karakteristik daerah, data sensus, demografi informasi, data lingkungan dan ekologi, jalan, penggunaan tanah, sungai dan drainase bantaran sungai, dan habitat satwa langka. Berbagai aplikasi membuat dan menggunakan berbagai lapisan. GIS juga dapat menyimpan data atribut, yang deskriptif informasi dari fitur peta. Informasi atribut tersebut dimasukkan ke dalam database terpisah dari data grafis tetapi terhubung kesistemnya. GIS memungkinkan pemeriksaan tata ruang dan data atribut pada waktu yang sama. GIS juga memungkinkan pengguna mencari data atribut dan berhubungan kedata spasial. Oleh karena itu, yang dapat menggabungkan GIS geografis dan jenis lain untuk menghasilkan data peta dan laporan, yang memungkinkan pengguna untuk mengumpulkan, mengelola, dan menginterpretasi berdasarkan informasi lokasi dalam rencana dan sistematis. Singkatnya, sebuah GIS dapat didefinisikan sebagai sistem komputer mampu penerapan, menyimpan, manipulasi, dan menampilkan secara geografis referensi informasi.
GIS sistem yang dinamis dan ijin cepat update, analisis, dan layar. GIS menggunakan data dari berbagai sumber beragam seperti satelit gambar-gambar, foto udara, peta, survei tanah, dan global positioning sistem (GPS).

2. Jenis-jenis GIS
GIS tidak harus eksklusif. Sitem GIS dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis diantaranya sebagai berikut:
a. GIS empat dimensi
b. GIS multimedia / hypermedia
c. GIS web
d. GIS virtual kenyataan
Subsistem data input memungkinkan pengguna untuk menangkap, mengumpulkan, dan membentuk tata ruang dan data tematik ke dalam bentuk digital. Data masukan biasanya berasal dari kombinasi keras salinan peta, foto udara, gambar pengindraan jauh , laporan, survei dokumen, dan lain-lain.
1) Jenis data GIS
Data-data GIS berisi peta dari berbagai tingkat detail (peta dari daerah, peta utama kota dan desa, peta dari arkeologi dan situs sejarah dan lain-lain), foto tempat dan monumen, gambar, teks (dalam banyak bahasa), musik dan suara.
Untuk lebih kompleks aplikasi, data multimedia didapat dari gambar-gambar, pengindraan jauh, peta discan, digitasi video klip, DTMs, satu atau lebih dimensi pengukuran, simulasi model keluaran dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka adalah benda rumit, yang memiliki volumedata yang besar, pengolahan intensif dan persyaratan
kaya semantik.
Dasar jenis data dalam GIS mencerminkan data tradisional yang ditemukan pada peta. Dengan demikian, GIS memanfaatkan teknologi dua jenis data dasar, yaitu:
- Data spasial, yang mutlak dan menjelaskan relatif lokasi geografis fitur.
- Data atribut, menggambarkan data karakteristik dari tata ruang fitur. Karakteristik tersebut berupa kuantitatif dan atau kualitatif di alam. Data atribut sering disebut sebagai data datar.
2) Sumber Data
Berbagai jenis dari sumber data yang ada untuk kedua tata ruang dan data atribut. Yang paling umum umum untuk sumber data spasial adalah:
• Hard copy peta
• Foto udara
• Gambar-gambar dari pengindraan jauh
• Point data sampel dari survei
• Data digital yang ada file
Data spasial Ini biasanya dalam bentuk analog dan harus diubah ke bentuk digital sebelum dapat digunakan.
Data atribut bahkan memiliki banyak jenis sumber data. Setiap tekstual atau datar dari data dapat menjadi referensi ke fitur geografis, misalnya titik, baris, atau daerah, dapat menjadi masukan GIS. Atribut data biasanya input manual oleh pemakai atau melalui pemuat utilitas massal dari perangkat lunak DBMS.
3) Edit Data dan Jaminan Kualitas
Mengedit data dan verifikasi adalah dalam nenanggapi kesalahan yang muncul selama Encoding dari tata ruang dan non-data spasial. Mengedit dari data spasial adalah memerlukan waktu, proses interaktif yang dapat mengambil panjang, jika tidak lagi, dari data masukan proses itu sendiri.

3. Aplikasi GIS dari Multimedia
Ada beberapa penggunaan system GIS yang sering kita liat di antaranya sebagai berikut:
a. Pendidikan
b. Mapmaking
c. Informasi Tanah
d. Infrastruktur dan Utilitas
e. Lingkungan
f. Arkeologi
g. Bencana Alam
h. Kehutanan
i. GIS Militer
j. Kelautan
k. Pengairan
l. GIS di pertanian dan tanah

4. GIS dan Analisis Tata Ruang di Perkotaan
Tata ruang dan analisis GIS memerlukan investasi besar di staf dan waktu yang cukup untuk menyediakan data dalam format yang siap digunakan untuk analisis data rinci tata ruang. Banyak daerah perkotaan dan kantor statistik dan lembaga penelitian telah cukup sumber daya untuk tugas ini. Fundamental untuk penggunaan SIG dan analisis tata ruang adalah ketersediaan data spasial. Data biasanya data ini terdiri dari dua jenis, yaitu: topografi dan atribut.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah mengarah kearah meningkatnya permintaan untuk referensi data spatial dan juga untuk para penyedia sering terkendala dengan komersial dan kerahasiaan masalah dan sering dikutip sebagai isu utama pengambat pengembangan GIS.
Pada daerah tertentu GIS juga digunakan pada pelestarian lingkungan di daerah perencanaan pembangunan Karena Urbanisasi selalu menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati. Manusia peluasan pemukiman, kebutuhan konversi alam lingkungan untuk perkotaan atau pedesaan sering menggunakan lead untuk tetap aman hilangnya habitat spesies bernilai dari satwa liar. Yang unconstrained pertumbuhan kota dalam bentuk perkotaan telah mengakibatkan melorot keanekaragaman hayati suatu wilayah binatang dan vegetasi. Akuatik lingkungan juga telah terpengaruh . Stream aliran sungai yang telah diubah dari alam untuk perkotaan telah diukur untuk memiliki perubahan signifikan dalam hidrologi, geomorphology, dan ekologi umum sehingga mengurangi populasi ikan dan serangga.
Perencanaan di daerah perkotaan, GIS tersebut dimanfaatkan untuk amalgamate data dari berbagai departemen dalam satu sistem umum. Dalam pemerintah kota, GIS memfasilitasi sejumlah fungsi untuk berbagai departemen. Pada awalnya GIS menggunakan USD sederhana untuk menampilkan hubungang dari lapisankadaster , yang plotting pada plotter masing-masing bidang dalam batas-batas kota .
Dalam perencanaan pemanfaatan lahan, ketersediaan sumber data seperti digital
ketinggian model, spasial database, dan gambar-gambar jauh meningkat. Sebagai kemampuan komputer untuk menangani volume data yang besar juga telah meningkat, penerapan SIG untuk menganalisis tren geografis atas ruang dan waktu lends sendiri untuk digunakan lebih sering. Tanah-menggunakan analisis dari citra satelit adalah dasar teknik SIG untuk perencana daerah yang akan datang untuk menilai letak perkotaan.
Kemampuan untuk mengumpulkan dan mengintegrasikan data dari berbagai sumber merupakan mendefinisikan karakteristik dari GIS. Penilaian keanekaragaman hayati, satwa liar modeling, studi vegetasi, dan analisis sensitivitas semua jenis lingkungan GIS sistem lingkungan yang memerlukan set data besar pada skala regional.

5. Studi Kasus
Australian Spatial Data Directory adalah inisiatif nasional didukung oleh semua pemerintah di bawah naungan ANZLIC. Direktori adalah alat untuk meningkatkan penemuan data untuk data spasial untuk industri, pemerintah, pendidikan dan masyarakat umum melalui dokumentasi efektif, iklan dan distribusi. Direktori menghubungkan pemerintah dengan komersial node di setiap Negara / Wilayah dan data spasial lembaga dalam Kerajaan Persekutuan.
Direktori merupakan komponen penting dari ASDI, dan memasukkan data informasi tentang (metadata) dari semua wilayah hukum. Direktori diluncurkan pada tahun 1998 dan telah terus berkembang sejak di isi untuk menjadi kunci sumber informasi spasial di Australia. Saat ini terdapat 19 node terpisah, atau individu terhubung ke database direktori dengan lebih dari 40.000 individu metadata masukan. Teknologi yang digunakan untuk ASDD adalah Z39.50 pencarian dan pembacaan protokol yang saat dikombinasikan dengan World Wide Web menyediakan metode pencarian sederhana, dan penemuan kembali dari data spasial. Direktori ini juga kompatibel dengan US Clearinghouse Jaringan dan catatan yang dicari melalui jaringan ini. Direktori adalah dipelihara dan dikembangkan oleh Kerajaan Persekutuan atas nama ANZLIC Koordinasi Nasional melalui Group. Grup ini terdiri dari sebuah konsorsium Federal Instansi pemerintah, yaitu Australia Survei Kelompok Informasi dan Tanah (AUSLIG), Jaringan Informasi Sumber Daya Lingkungan (ERIN) dengan Biro Lingkungan Hidup dan Ilmu Pedesaan Australia (BRS).
Pada bulan Mei 1995 Commonwealth Pesisir perlu mengambil kebijakan untuk metetapkan membentuk Atlas Pesisir Australia (ACA) untuk membantu meningkatkan pengetahuan tentang zona pantai Australia, dan dengan demikian memberikan suara dasar informasi untuk mendukung keputusan untuk pengelolaan daerah pesisir. Proyek ACA melibatkan:
• Membangun kemitraan dengan laut dan pantai dan badan-badan kerja sama untuk memberikan informasi kepada publik yang lebih luas;
• Meningkatkan pengelolaan data pesisir dan laut;
• Mengisi beberapa kesenjangan mendasar di laut dan pesisir data;
• Pengembangan protokol dan perangkat lunak untuk membantu membuat data tersedia melalui Internet;
Atlas Pesisir Australia (ACA) merupakan jaringan nasional laut dan pantai semua badan bekerja bersama-sama untuk memberikan informasi kepada publik melalui WWW. ACA yang terdiri dari jaringan badan sekitar Australia disebut "node". Semua buku telah diinstal baik dengan Atlas Australia atau perangkat lunak telah dikembangkan sendiri web perangkat lunak pemetaan. Penggunaan teknologi internet memungkinkan data dari setiap node yang akan diakses secara nasional maupun internasional dengan luas dasar pengguna tertarik di informasi pesisir. Tujuan utama dari ACA adalah untukmeningkatkan pengelolaan pesisir. Perkembangan Atlas Pesisir Australia dianggap sebagian solusi yang lebih baik pengelolaan pesisir dengan menyediakan landasan untuk:
• terpadu pengambilan keputusan dan pengembangan jangka panjang strategis untuk tanggapan masalah pesisir; dan
• meningkatkan manajemen data dan pertukaran informasi untuk mengaktifkan manajer untuk membuat keputusan informasi tentang penggunaan dan pengembangan pantai
Atlas Sumber Daya Alam Australian adalah kendaraan untuk menyampaikan informasi produk Nasional dan audit sumber daya. Informasi ini diatur oleh dan tunduk oleh geografi dengan subjek:
• Kawasan kepentingan misalnya air, tanah, vegetasi dan
• Topik yang menarik misalnya permukaan air, kualitas tanah
Dengan geografi:
• seluruh Australia
• Negara / Wilayah misalnya Victoria
• Regionalisation misalnya basins permukaan air, sementara daerah biogeographical
Informasi yang disajikan dapat berlangsung berupa peta, foto, teks penjelasan, angka informasi, grafik, grafik yang dikelola dalam database. Selain itu, beberapa peta yang link ke peta interaktif yang memungkinkan pengguna untuk mencari informasi menggunakan state-of-the-art Web pemetaan teknik. Presentasi dari informasi yang dihasilkan secara dinamis oleh kembali informasi yang tepat dari database dan masuknya informasi yang diambil dalam tata letak template. Oleh karena itu Atlas adalah peningkatan sistem yang ditujukan untuk melayani kebutuhan pengelolaan sumber daya alam masyarakat baik untuk ke masa depan.
Selain di Australia contoh penggunaan GIS juga terdapat di Myanmar. Studi tentang profil penduduk serta utilitas air, sanitasi, dan pengelolaan limbah padat, yang mendukung proses yang menghasilkan masalah kesehatan. Tujuan akan dinyatakan dalam hal yang berhubungan dengan lingkungan peningkatan kesehatan.
Empat temuan utama dapat diperoleh dari studi. Pertama, pengelolaan data di atas kertas tidak dapat diandalkan; waktu limbah; dan mustahil untuk melakukan studi banding untuk menemukan out solusi visual. Kedua, dalam beberapa infrastruktur insufficiencies, pengelolaan sampa solid h adalah prioritas utama untuk kemajuan status kesehatan. Ketiga, sebuah perkiraan lalu lintas pada rute jarak jauh dari pusat kota final membuka situs dumping pada tahun 1939, 1999 dan tahun 2000 disorot alasan mengapa pekerja masalah dan kendaraan sekarang sehari. Analisis lokal tersebut dapat sangat diberikan pada keputusan yang lebih baik untuk perencanaan kota. Keempat, GIS dalam perencanaan, operasi dan tugas pemeliharaan merupakan kunci sukses untuk keseluruhan sistem kinerja untuk Lingkungan Pembangunan infrastruktur.



Kesimpulan
GIS pada dasarnya adalah menerapkan ilmu pengetahuan, dan saya percaya bahwa sementara vendor GIS, masyarakat, hardware dan software vendor, menyediakan fasilitas yang lebih baru, lebih baik dan lebih cepat teknologi alat, itu pada akhirnya, domain spesialis menerapkan alat yang menentukan dari negara pembuat.
Sistem Informasi Geografis dapat digunakan sebagai alat untuk giat perlindungan lingkungan dan perencanaan perkotaan. Membawa dua bidang bersama, dan memanfaatkan berbagai alat dan teknik, memungkinkan untuk bekerja keras untuk perencana melalui sebuah gunung kemungkinan data. Untuk perlindungan lingkungan hidup, kompleks analisis, seperti penilaian dampak lingkungan dan analisis sensitivitas, harus dilakukan dengan kaya dan data akurat. Di daerah perkotaan dan perencanaan, yang berhubung dgn kadaster lapisan set unit atas perencanaan yang guna lahan, properti penilaian, dan zonasi didasarkan pada perubahan. Menggabungkan guna lahan dengan studi penilaian lingkungan teknik dapat membantu dalam perlindungan satwa liar di skala regional. Pembangunan berkelanjutan upaya untuk mengimbangi sering bertentangan cita-cita pertumbuhan ekonomi dengan tetap menjaga kualitas lingkungan.
Sesungguhnya mempertimbangkan dari informasi yang terkandung harus menyimpulkan bahwa, seringkali cukup besar, investasi oleh daerah kota dan kantor statistik kompilasi dan dalam jumlah besar-besaran spatially referensi dataset, dan tempat mereka terkait peneliti di posisi yang sangat kuat untuk manfaat dari saat ini pembangunan di daerah

Referensi
Bond, Derek. GIS and Spatial Analysis in Urban and Regional Research. University of Ulster at Coleraine

Nairn, Alister D. Australia’s Developing Gis Infrastructure –Achievements and Challenges From a Federal Perspective. Department of Industry, Science and Resources Australia

Sandar, Khin. Gis For Environmental Infrastructure Development: A Case Study Of Yangon, Myanmar. Japan

Silva, Carlos. Using GIS for Environmental Sustainability in Regional Planning. 2004
Prakash. Arul Geographical Information Systems- An Overview. Indian Institute of Information Technology




Read more »

 
Powered by Blogger